ANDA PENGUNJUNG KE

TERJEMAHKAN KE BAHASA

eLfajry Twitter

KATEGORI

HIJRI CAL

HALAMAN TERPOPULER

LIFE TRAFFIC FEED

RECOMENDASI BACAAN

Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2009

WADUK KEDUNGOMBO Ahad, 21 Juni 2009

0 komentar


Mendengar kata Kedungombo tentunya pikiran orang langsung terarah kepada sebuah waduk yang berukuran raksasa. Pasalnya, waduk ini sempat menggegerkan bahkan mewarnai pentas politik nasional di akhir tahun delapan puluhan dan awal tahun Sembilan pulu puluhan. Bukan itu saja, pihak-pihak asing terutama Negara-negara maju mengungkit-ungkit masalah ini hamper di setiap forum internasional. Paeristiwa penggusuran 37 desa yang terkena pembangunan waduk diklaim telah melanggar hak asasi manusia. Mereka hanya melihat sisi negatifnya padahal sesungguhnya ada dampak positif yang lebih besar. Kesejahteraan masyarakat sudah pasti meningkat. Tidak hanya 37 desa melainkan ratusan desa dapat memanfaatkan sumber daya waduk ini untuk kebutuhan mereka di berbagai sektor.
Niat untuk pergi ke waduk ini muncul setelah kami menghadiri Seminar Kecil di Desa Wonosari, tentu aku sangat mendukung karena sudah pernah mendengar namanya namun tidak pernah dating mengunjunginya. Perjalanan yang dianggap dekat dengan lokasi pertama kami ternyata masih jauh untuk menempuhnya saat bertanya dengan pedagang bensin yang dikunjungi. Waduk ini terletak di Grobogan, Purwodadi tidak dekat dengan Wonosari, Kabupaten Blora. Tetapi ada rasa penasaran yang tinggi muncul di benak diri, sehingga akan tetap kami lanjutkan pergi ke obyek wisata buatan tersebut. Dengan semangat yang membara maka jarak yang jauh dan menelan waktu yang berjam-jam tetap kami lalui dengan rasa senang.


Waduk Kedungombo berlokasi pada pertemuan tiga kabupaten yakni Boyolali, Sragen, dan Grobogan. Luas areal seluruhnya 5.898 hektar dengan genangan 46 km2 dan volum air sebesar 731.000.000 m2. Panjang bendungan uatmanya 1,6 km, lebar bagian atas dan bawah masing-masing 12 meter dan 382 meter. Tinggi elevasi puncak 96 meter dan tinggi di atas pondasi terendah 66 meter. Badan bending terdiri dari urugan batu, clay dan tanah khusus dari Juangi yang kedap air, seluruhnya berjumlah 7.000.000 m2 (Sumber : Krida Wiyata 160). Awalnya dibangun khusus untuk mengendalikan banjir daerah serang bawah, yaitu Welahan Bum, Kedung Semat, Lembah Juana dan Glapan Sedadi yang disebabkan oleh air sungai Serang. Akan tetapi dengan berfungsinya Kedungombo, sekarang airnya dapat mengairi sawah sekitar 60.000 hektar. Di samping itu, air waduk yang digunakan juga sebagai pembangkit listrik (PLTA) dan sumber air minum yang dikelola PDAM.


Sebagai obyek wisata, kawasan ini menawarkan sejuta pesona keindahan alamnya yang khas. Ketika masih dalam perjalanan dari Blora menuju obyek ini, kami sudah terhanyut dalam kesejukan alami, kesejukan alam lingkungan tempo dulu yang didambakan segenap manusia masa kini terutama masyarakat kota yang selalu dihantui ketegangan, kejenuhan, kebosanan oleh beban dan rutinitas kehidupan kota. Perjalanan ini ternyata melewati jalan yang berliku terdapat jalan yang halus tetapi ketika kami sampai di tujuan terdapat jalan terjal yang dilewati. Itu menjadi biasa karena sebelumnya kami telah melalui jalan yang berbeda rasanya. Untuk menuju obyek tidak ada salahnya jika kita bertanya pada polisi yang menjag di pos keamanan. Baru pertama kalinya kami ke sana, tentu tidak mengetahui jalan sebenarnya sehingga ada percakapan sebentar dengan polisi setempat. Memang perut ini telah terisi makanan khas Grobogan setelah seharian mengikuti seminar, tetapi masih ada rasa ingin mengunjungi obyek yang dianggap dekat dengan Wonosari.


Kendatipun jarak yang ditempuh dari Blora ke Kedungombo, Grobogan cukup jauh namun suasana terik matahari yang menyengat tidak terasa. Sepanjang perjalanan, di kanan kiri jalan ada hutan jati dan sedikit mahoni yang selalu memberi keteduhan dan memancarkan oksigen segar. Tumbuh pula pepohonan dan rumput yang membentuk semak belukar yang tidak kami ketahui namanya tetapi tidak kami temui di Blora. Jalanan yang retak-retak dan ditumbuhi rerumputan kecil kami lalui dengan hati-hati sepertinya seperti telah terjadi gempa bumi di lokasi ini.


Begitu memasuki kawasan wisata utama, para wisatawan akan merasa seolah dibawa kepada alam kehidupan lain. Dari pintu gerbang memandang ke timur tampak hutan wisata dengan latar belakang air Waduk Kedungombo yang indah. Kebetulan kami sampai di sore hari jadi suasana matahari tenggelam terasa hangat dirasakan. Untuk menuju obyek di pintu gerbang terdapat kantor kecil yang berisi penjaga yang menariki ongkos masuk wisata. Paerpaduan antara nuansa lami dengan panorama buatan hasil kreasi manusia sangat menakjubkan. Di sinilah misteri kenesaran dan kemahakuasaan Allah Sang Pencipta Alam Semesta sungguh terjelma dan tampak nyata untuk mengisi “kehausan jiwa” para wisatawan. Suatu pemandangan unik bagaikan langit dan bumi bertemu menyatu dalam satu pesona yang tersalur dan terwujud melalui akal budi manusia.


Pintu gerbangnya ternyata ada banyak namun kami tidak bingung karena cukup melalui jalan yang lurus maka sampailah ke tujuan. Parkiran sepeda motor menunggu kami untuk menjaga keamanan kendaraan yang dibawa. Tentunya kami ditarik biaya parkir hanya untuk merasakan indahnya danau buatan manusia ini. Waktu sebentar kami sempatkan untuk melihat genangan air raksasa yang memenuhi waduk. Karena kami bertiga pun belum menjalani sholat asar. Saatnya mencari musolla yang disediakan di sana,akami pun sempat salah tempat yang dikira musolla ternyata kantor pusat obyek wisata. Monyet yang nakal ditemukan di lokasi yang dikunjungi tentu ada rasa ingin berfoto dengan hewan itu. Tetapi karena begitu lincahnya monyet menjauhi dan hamper menyerang kami ketika didekati. Akhirnya rencana kami gagal, mungkin karena monyet tersebut kurang akrab dengan pengunjung yang baru dikenal. Menurut penjaga yang kebetulan duduk di depan kantor menyatakan bahwa sesungguhnya jumlah monyet yang dilepas di obyek ada tiga ekor. Karena mengganggu warga maka tinggal satu yang masih hidup di areal wisata. Kemungkinan monyet yang lain mati atau lari ke wilayah perumahan warga.


Pertanyaan kami sampaikan kepada pemilik warung yang berjualan di dekat waduk untuk mencari letak musolla sebenarnya. Sebelumnya kami melihat sebuah monument yang berdiri megah di wilayah Waduk Kedungombo. Banyak pengunjung yang dating untuk menikmati segarnya waduk yang indah pemandanganya. Kebanyakan mereka mengajak keluarga dan mengendarai angkutan umum atau bus yang berjurusan di obyek ini. Ternyata musolla terletak di dekat rimbunan taman yang bereaneka buah-buahan tumbuh. Sebelahnya terdapat kebun binatang kecil yang berisi monyet, merak, bebek, dan sebagainya. Tiba-tiba kami menemukan hewan yang aneh yang juga penurut. Namanya tidak diketahui, karena hewan tersebut sebesar kambing, mirip babi hutan, pemakan tumbuhan tetapi bergigi taring, dan memiliki tanduk seperti rusa serta warna bulunya coklat. Coba teman pernah menemukannya atau tidak, sepertinya ini hewan langka. Hanya ada satu ekor yang berada di kandang namun jinak jika didekati. Musolla kecil yang berada di dekat taman kami gunakan untuk menunaikan shalat asar dan cukup ramai yang memanfaatkanya. Taman yang indah dan ditumbuhi buah-buahan seperti sawo, asam jawa, mangga, dan lain-lain. Teman kami tertarik dengan pohon sawo yang tumbuh maka beberapa buah dipetik untuk dibawa pulang.


Waktu akan menjelang malam tetapi kami sempatkan untuk menelusuri obyek wisata. Di pinggir waduk terdapat tempat khusus untuk memancing. Biasanya para bapak atau remaja meluangkan waktu unuk mencari ikan di genangan air yang luas. Perahu sewaan juga menunggu para wisatawan yang ingin merasakan segarnya di atas air. Rute waduk mengantarkan ke tempat yang khusus bagi orang yang berkepentingan saja. Tentu kami sebagai pendatang tidak diperkenankan ke sana padahal pemandangannya sungguh indah dan dari tadi ada rasa penasaran untuk mengunjunginya. Jalur ini juga digunakan untuk kereta-keretaan yang biasa diboncengi anak-anak. Pada pintu masuk kebetulan terbuka maka kami langsung memasuki wilayah yang sebenarnya tidak boleh dikunjungi wisatawan. Indah rasanya bisa melihat matahari tenggelam di sela-sela genangan air waduk. Satpam yang menjaga tiba-tiba menutup gerbang saat kereta-keretaan keluar dari wilayah. Rasa panic muncul di hati kami maka langkah ini segera meninggalkan tempat yang indah itu.


Wana wisata Kedungombo yang merupakan primadona di kawasan ini begitu menawan. Obyek yang terletak di desa Ngeboran ini barangkali dibuka dengan harapan agar wisatawan yang dating untuk menyaksikan dari dekat Waduk Kedungombo merasa aman, nyaman, dan betah. Pepohonan jati dan mahoni yang tertata rapi menawarkan suatu kenikmatan tersendiri. Sebagai daya tarik wisatawan, di dalam hutan wisata tersebut dilengkapi dengan tempat duduk dan tempat peristirahatan, tempat informasi, sarana bermain, pemancingan, musolla, gardu pemandangan atau shelter, sarana air bersih, dan toilet. Tempat parker kendaraan bermotor roda dua dan roda empat persis di tepi waduk atau di depan tempat peristirahatan. Satu hal yang menarik juga bahwa di dalam lokasi wana wisata disediakan tempat khusus untuk wisatawan yang hendak berkemah.


Selasa, 14 Juli 2009
Sumber : Potensi Wisata Jawa Tengah
Observasi dan pengambilan foto obyek
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

Taman dan Kolam Renang Tirtonadi

0 komentar
Pesatnya pembangunan Industri di segala bidang di daerah perkotaan di satu pihak dan tingginya ledakan penduduk di pihak lain dapat membawa dampak yang cukup memprihatinkan. Hal ini dapat terjadi karena mempersempit tempat bermain bagi anak-anak dan untuk sekedar mendapatkan udara yang bersih. Zaman sekarang sudah seharusnya para perencana pembangunan suatu kota menyiapkan beberapa taman yang berfungsi sebagai paru-paru kota, dengan tujuan utama untuk menyaring udara kotor, sehingga udara yang kita hirup merupakan udara yang bersih dan murni.
Kabupaten Dati II Blora telah memiliki sebuah taman rekreasi yang pernah jaya sesudah zaman kemerdekaan RI hingga sampai akhir tahun 1960 –an. Taman ini dikenal oleh masyarakat sebagai Taman Rekreasi Tirtonadi. Letaknya ditepi sungai kecil yaitu sungai Grojogan. Obyek ini memiliki lokasi strategis dan berada ditengah-tengah kota Blora, atau lebih cocok disebut sebagai paru-paru kota Blora. Tirtonadi memang cocok untuk melepas beban dari rutinitas kota dan bagi muda-mudi sangat mengasyikkan menikmati suasana kota sambil berangan-angan tentang hari esok yang indah.
Dahulu saat waktu kecil aku sering pergi ke tempat ini. Bersepeda dengan teman-teman untuk mengisi waktu liburan. Terdapat patung gajah raksasa yang sulit aku tunggangi karena ketinggianya. Keberadaan patung tersebut telah hilang karena lokasi yang akan diubah menjadi kolam renang. Tanpa membayar biaya masuk aku bisa menikmati taman yang menjadi kegemaran masyarakat untuk mendatanginya. Kolam renang yang telah dibangun terbagi dua antara kolam dewasa dan anak-anak. Tentu menarik perhatian warga untuk mendatanginya. Saat ini wisatawan yang hendak mendatanginya dikenai biaya masuk untuk menyegarkan badan di air yang jernih.
Taman yang memiliki luas areal 1,5 hektar ini merupakan yang baik untuk keluarga bermain-main bersama-sama, anak-anaknya, atau pun sambil bercengkrama. Taman ini memiliki beberapa fasilitas seperti kolam renang, ayunan, timbangan, tempat luncur, bandulan, aneka binatang buatan seperti jerapah, onta, kijang, dan lain-lainnya. Aneka tumbuh-tumbuhan dan beberapa jenis burung sebagai pelengkap keindahan.
Pada masa jayanya obyek wisata ini merupakan tempat rekreasi yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Blora dan sekitarnya seperti Rembang, Pati, Kudus, Grobogan bahkan dari Bojonegoro (Jawa Timur). Tirtonadi merupakan perpaduan antara wisata alam berupa air sungai Grojogan, kebun binatang mini, serta wisata budaya seperti tempat pementasan budaya tradisional antara lain Wayang dan Tayuban. Lokasi ini juga pernah untuk diadakan lomba melukis oleh Paguyuban Seni Rupa Blora dan aku menjadi salah satu pesertanya dengan teman-teman yang berpartisipasi.
Bangunan yang berada di belakang Kantor Radio Gagak Rimang ini juga tidak ketinggalan music modern seperti orkes melayu atau dangdut yang cukup banyak peminatnya. Khusus untuk gerak tari yang diatur serempak antara penari, penabuh gending serta penonton yang sewaktu-waktu turut sebagai pemain. Adapun tujuannya untuk menjalin keakraban dan persaudaraan.
Museum Mahameru terdapat di dalam taman ini dan menjadi tempat untuk benda-benda peninggalan sejarah peradapan Blora. Berbagai temuan situs di Blora hasil penggaliannya diletakkan di museum ini. Plank tulisan Museum Mahameru juga telah terpasang di bagian selatan taman. Sehingga bagi masyarakat yang terkagum-kagum melihat benda bersejarah bisa mengunjungi daerah ini.
Obyek wisata ini sebenarnya potensial untuk lebih dikembangkan sebagai arena permainan anak-anak, keluarga, serta mereka yang menanjak dewasa. Sekarang Taman Rekreasi Tirtonadi sedang ditata dan dibenahi kembali. Bisakah Taman ini meraih kembali zaman keemasannya seperti tempo dulu?

Selasa, 21 Juli 2009
Sumber : Potensi Wisata Jateng
Observasi dan pengamvilan foto obyek
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

GOA TERAWANG 30 MEI 2009

0 komentar

Goa Terawang merupakan obyek wisata alam yang terdapat di Desa Cakrawati, Kecamatan Todanan, berada di kawasan hutan RPH Kedung Wungu, BPKH Kolonan, KPH Blora. Karena letaknya di kawasan hutan lindung maka statusnya adalah tanah milik Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Adapun luas wilayah Goa Terawang 125 kilo meter, Rembang – Goa Terawang 71 kilo meter, Cepu – Goa Terawang 68 kilo meter, Pati – Goa Terawang 71 kilo meter, Grobogan – Goa Terawang 49 kilo meter, Blora – Goa Terawang 53 kilo meter, Kunduran – Goa Terawang 10 kilo meter, Todanan – Goa Terawang 4 kilo meter dan Bentolo – Goa Terawang 0,5 kilometer. Wah luas sekali ya, wilayah Goa Terawang tentu di dalamnya terdapat beberapa goa unik dan arena bermain.

Untuk mencapai obyek wisata ini bisa dengan angkutan antar kota maupun angkutan pedesaan, seperti angkutan umum jurusan Todanan – Kunduran – Blora, atau pun angkutan antar kota Purwodadi – Blora – Todanan. Kami berempat beserta teman yang lain menempuhi jarak tersebut dengan mengendarai sepeda motor. Dengan melalui jaalan yang datar berliku-liku, diselingi hembusan angin pedesaan yang nyaman, diimbangi dengan keindahan alam daerah pertanian yang menawan, akan disambut oleh lambaian dedaunan hijau di pegunungan yang saling bertautan. Maka kami akan tiba memasuki perhutani yang ditanami pohon mahoni yang tumbuh subur. Kecamatan Todanan terkenal dengan hasil pertanianya yaitu durian dan rambutan.

Goa Terawang berada 100 meter dari jalan yang menghubungkan Todanan – Kunduran, sedangkan Goa berada di bawah permukaan tanah dengan kedalaman 5-12 meter. Panjang alur atau terawangan goa yaitu terpanjang 180 meter, sedangkan yang terpendek 70 meter. Lebarnya mencapai 3 – 5 meter. Untuk sampai ke mulut Goa wisatawan akan melalui jalan setapak yang permanen, tetapi saying keadaan jalan ini tidak terawat. Wisatawan akan tiba di Goa untuk menyaksikan pesona buatan tangan- Nya yang begitu menawan. Goa yang terbentuk di dalam endapan batu gamping yang berumur Meosen Tengah (kira-kira 10 juta tahun yang lalu) yang menempati daerah pegunungan kapur bagian utara.

Rombongan sepeda motor kami telah sampai di pintu gerbang Goa Terawang, tetapi kami sempatkan untuk menunaikan sholat Dzuhur di salah satu masjid terdekat karena di wilayah obyek wisata tidak tersedia tempat ibadah. Beberapa meter kami lalui dengan menuruni bukit goa yang cukup indah dengan panorama pedesaan beserta daerah pertanian. Akhirnya kami pun sampai di masjid terdekat, ternyata sedang dilakukan perbaikan tempat wudlu. Tetapi kami dapat mengambil air wudlu yang disediakan bersama rekonstruksi bangunan yang sedang diperbaiki. Suasana sepi kami rasakan karena telah selesai dilakukan jama’ah sholat dzuhur sehingga mengharuskan untuk membuat shaf baru sendiri. Sambil beristirahat kami lakukan karena telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dari Blora, Sumber Mata Air Desa Kajengan, dan kini telah sampai di tempat tujuan.

Perjalanan kami lanjutkan ke Goa Terawang, tentu dengan sepeda motor yang dibawa. Di pintu gerbang goa tidak ada penjaganya, namun setelah melewati gerbang bagian dalam di dekat lapangan tempat kami memarkir terdapat seseorang yang membawa beberapa karcis. Kami pun ditarik biaya masuk goad an ongkos parkir. Di dekat lapangan parkir terdapat bangunan yang umum digunakan untuk beristirahat dan merasakan kesejukan hutan yang meramaikan goa seperti rumah namun tidak berdinding. Terdapat beberapa toilet yang disediakan di dekat rumah tersebut, namun ketika kami ke sana hanya satu toilet yang menyediakan air untuk digunakan. Di kerindangan pepohonan jati sekitar goa biasanya ada monyet yang bergelantungan tetapi kami tidak menemukan seekor pun mungkin sedang bersembunyi. Sebagaimana halnya dengan keadaan geologis dari goa-goa yang ada di daerah berbatu kapur (lime stone), di dalam Goa Terawang ini terdapat banyak Stalagtit dan Stalagmit yang unik namun indah bentuknya. Sehingga wisatawan menjadi terkagum-kagum menyaksikan keindahan sambil berucap betapa besar Kasih dan Kuasa-Nya.

Di samping Goa Terawang sebagai obyek utama, wisatawan bisa menyaksikan beberapa atraksi lainya seperti arena permainan anak-anak. Untuk arena ini tersedia alat-alat antara lain ayunan, timbangan, tempat luncur, komedi putar, dengan di dukung oleh kenyamanan udara yang diselimuti oleh rindangnya pohon jati, mahoni dan lain-lainnya. Kami pun tidak menyempatkan untuk merasakan arena permainan tetapi langsung menuju ke dalam Goa Terawang. Jalan yang bertangga ke bawah kami lalui dan ditengahnya terdapat setonggak besi untuk kami gunakan pegangan karena harus hati-hati jika mau ke mulut goa. Perjalanan kami telusuri di dalam goa yang sangat panjang namun terdapat rekahan-rekahan goa yang jatuh membawa cahaya dari luar. Pemandangan itu menambah keelokan goa, di ujung goa sangat petang rasanya karena tidak ada cahaya atau lampu yang menyinari penelusuran itu. Terpaksa kami harus melepas alas kaki atau sandal karena jalan mulai becek dengan tanah yang lembek. Akhirnya kami sampai juga di ujung goa, ternyata goa terbagi atas lima terawang. Itulah kenapa dinamakan Goa Terawang karena pemandangan luar juga bisa kita rasakan dengan menerawang bagian atap gua. Sungguh melelahkan penjelajahan menelusuri lorong-lorong Goa Terawang, tetapi kami lega karena bisa menikmati keindahan goa.

Fasilitas lain yang tersedia adalah pendopo, gardu pandang, shelter, kantor pengelola, jalan setapak dan juga warung makan yang terdapat di depan pintu masuk obyek wisata. Dengan letaknya yang sangat strategis, berdekatan dengan Waduk Bentolo, Goa Kidang, Goa Breng, Goa Agung, Kajengan, dan sebagainya, maka bisa merupakan satu paket wisata yang menjanjikan harapan.



Ahad, 12 Juli 2009
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

SUMBER MATA AIR KAJENGAN 30 MEI 2009

0 komentar

Mentari pagi datang membawa kesejukan di temperature udara yang cukup dingin di Desa Sonorejo tempat aku menunggu teman-teman. Kegelisahan mulai menghampiriku karena yang ditunggu tidak datang-datang. Kami telah membuat perjanjian kalau aku nanti akan di jemput di rumah, tetapi mengapa tidak muncul juga? Akhirnya ku hubungi Yudha, sahabatku yang akan memboncengkanku, tunggu sebentar pasti akan datang katanya. Ternyata mereka sedang mendapat masalah dengan polisi di lampu merah yang diterobos secara tidak disengaja. Itu menjadi alasan terjadinya keterlambatan untuk pergi ke Todanan. Ada rasa tidak enak muncul dari dalam hati karena aku sudah berprasangka buruk kepada mereka, syukurlah tidak terjadi apa-apa. Barangkali itu menjadi peringatan bagi kami untuk lebih hati-hati. Perjalanan dilanjutkan ke rumah teman di Ngawen yang nantinya juga akan ikut ke tempat tujuan.

Di rumah Enjel bersama teman-teman lainya kami beristirahat cukup lama sambil menonton TV yang dinyalakan tanpa ijin tuan rumah. Di sana kami disuguhi beberapa makanan dan minuman, nyaman sekali rasanya, tentu dengan lahap teman-teman segera menghabiskanya. Perbincangan begitu seru karena sebelum ke Ngawen kami telah ditilang dua kali. Masya’ Allah mudah-mudahan ini tidak terjadi lagi. Penilangan kedua terjadi di dekat Pos Ngancar yang ada ditikungannya, hal ini terjadi pada Dita, Candra yang diboncengkan, dan Kasnawi yang dua kali ditilang. Sudah beberapa menit kami dimintai keterangan, cukup lama juga. Yudha datang membela teman-teman yang ditilang, Kasnawi selamat karena tadi telah ditilang sedangkan Dita dan Candra harus menjawab pertanyaan polisi karena tidak mempunyai SIM. Mudah-mudahan ini cepat selesai dan menjadi nasehat yang baik bagi kami. Selesai juga perkara ini di tengah ramainya pengendara sepeda motor yang juga terkena tilang. Kami melanjutkan perjalanan ke Ngawen, di tengah perbincangan itu tiba-tiba datanglah Intan yang juga diundang.

Kini saatnya kami meneruskan ke rumah Gunaryo yang berada di dekat Pasar Ngawen karena sudah cukup lama berbincang-bincang dan melepas lelah. Ini menjadi pertama kalinya ke rumah teman sebangku dari tempat yang terjauh. Aku menjadi mengetahuinya begitu banyak perjuangan menuju ke SMA 1 Blora yang biasa menaiki bus umum untuk mencapainya. Sedangkan rumahku yang biasa direngkuh dengan sepeda bisa mencapai sekolah, Alhamdulillah…..! Sambil menunggu berberes-beres, tentu aku dan Yudha menyempatkan untuk berkunjung meskipun hanya sebentar karena masih jauhnya tempat harapan. Untuk menuju ke Suimber Mata Air Kajengan bisa kita tempuh dengan beberapa kendaraan. Kebetulan kami berdelapan menggunakan sepeda motor untuk merengkuhnya, biasanya masyarakat menggunakan angkutan antar kota maupun angkutan pedesaan, seperti angkutan umum jurusan Todanan – Kunduran – Blora, atau pun angkutan antar kota Purwodadi – Blora – Todanan.
Hembusan angin pedesaan yang datang menerpa sepeda motor kami membuat semakin seru perjalanan ini. Aku memang tidak pernah ke tempat tujuan tetapi ada beberapa teman yang tahu yaitu para Bantara. Aktivis organisasi pramuka dari pelajar SMA yang biasa mengadakan perkemahan di wilayah yang kami tuju. Pengalaman ini menjadi pertama kali bagiku, karena juga untuk mengisi waktu liburan sekolah yang lama. Dari Ngawen sampai Desa Kajengan membutuhkan jarak yang tak cukup lama, kita perlu bersabar. Sekeliling perjalanan biasanya terdapat segerombolan kerbau yang merumput khususnya waktu sore, saat itu tidak tampak oleh kami. Untaian pertanian semangka yang kami temui di sepanjang perjalanan yang merambat dengan suburnya.

Perjalanan yang cukup panjang tapi menyenangkan telah kami lalui, di depan tempat tujuan ada sungai yang memotong jalan. Aku dan Yudha tergelitik karena terdapat anak-anak kecil yang sedang memandikan diri sambil mencari ikan. Tampak di tangan kecil terdapat segelas aqua untuk menangkap ikan yang berada di sungai. Sembari melihat keceriaan anak pedesaan yang sedang mengguyur tubuhnya maka kami menunggu teman lain yang belum sampai di Kajengan. Ada rasa heran dengan sumber mata air sehingga kami segera menuju tempat tujuan. Ternyata butuh perjuangan yang cukup menguji karena jalan menuju tujuan sedang dilumuri lumpur yang lembek. Teman perempuan kami yang semuanya aktivis pramuka menunggu di luar karena sudah pernah ke lokasi itu juga.

Nafas lega kami hembuskan karena telah sampai di Sumber Mata Air Kajengan. Hawa sejuk mengenai paru-paru kami yang diselimuti pepohonan yang rindang. Lapangan yang sering dijadikan Bumi Perkemahan menjadi saksi kebersamaan ini. Di tengah perjalanan tiba-tiba sepatu sandalnya Yudha terpatahkan mungkin tadi melawan rintangan yang datang. Sekitar rerumputan yang tumbuh subur tumbuh pohon-pohon yang sudah berjuta lamanya tumbuh sehingga tingginya sudah mau mencapai langit sepertinya. Tidak lupa kami parkirkan sepeda motor untuk menikmati sumber mata air tetapi waspada menghampiri hati karena tiada orang yang menjaga di obyek wisata. Rumah dinas berdiri di dekat sumber mata air, biasanya para penjaga bertempat di kantor tersebut. Mungkin karena hari ini libur sehingga tiada penjaga yang ditemui.

Sumber mata air Kajengan mengalir dengan lambat namun tiap hari mengucurkan air. Di dekatnya terdapat aliran menyerupai sungai yang muncul dan kolam yang sengaja dibangun untuk masyarakat dan wisatawan. Tampak oleh kami masyarakat Desa Kajengan yang sedang memanfaatkan aliran air. Ada yang menggunakanya untuk mandi, mencuci baju, mengambil air, dan sebagainya. Sebelah kami terdapat bapak-bapak yang sedang mengambil beberapa derijen air setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Begitu banyak manfaat yang bisa kita gunakan dari air yang keluar tiap harinya. Kantor khusus yang menganinya memiliki peralatan saluran air untuk mengairi sejumlah rumah yang membutuhkan. Namun sepertinya kurang terawat dikarenakan pengunjung masih sedikit yang datang. Menurut kepercayaan setempat bagi siapa yang menggunkan air untuk membasahi wajah atau bagian lain maka akan awet muda. Itu menjadi ciri khas yang diyakini wisatawan masyarakat dan setempat yang mempercayainya. Jembatan kecil dari semen memotong aliran biasa digunakan untuk menyebrangi sumber mata air yang mengalir.

Wilayah ini merupakan obyek wisata alam yang patut kita lestarikan agar bisa memberikan manfaat bagi generasi mendatang. Mata air yang mengalir dijadikan masyarakat sebagai tempat memenuhi kebutuhan menjadi fenomena yang lazim kita temukan di daerah yang jarang dikunjungi ini. Biasanya para remaja menggunakan lokasi ini untuk perkemahan dan di setiap acara para peserta mengadakan bakti sosial membantu warga di sekitar Kajengan. Tugas bagi kita semua untuk menjadikan obyek wisata ini ramai dan aktif karena sumber aliran air yang begitu mengundang penasaran.





Senin, 13 Juli 2009
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

MUSEUM KAMAR PENGABDIAN KARTINI, 20 MEI 2009

0 komentar
Kabupaten Daerah Tingkat II Rembang dengan ibukota Rembang, berdiri tanggal 8 Agustus 1950. Dengan letak geografi 6-7 derajat lintang selatan 111-112 derajat bujur timur, merupakan perpaduan antara pantai, dataran rendah hingga daerah pegunungan Lasem. Untuk bidang pariwisata, Rembang memiliki keindahan yang khas baik obyek wisata alam, obyek wisata peninggalan sejarah, dan bahkan obyek wisata budaya.

Perjalanan ini kami mulai dari alun-alun Kota Rembang, kami pun mendokumentasikan kebersamaan ini. Untuk melepas lelah kami beristirahat di dekatnya dengan merasakan kesejukan es yang dijajakan secara berkeliling oleh salah satu pedagang. Kebetulan sampai di Rembang adalah siang hari, sungguh panas sekali. Namun keceriaan menghampiri karena kami telah sampai di tempat tujuan. Ternyata luas juga pusat perdaban kota Rembang, seluas lapangan sepak bola karena bagian tengah tiada monumen atau pepohonan. Tentu di sekitarnya ada masjid agung, pendapa bupati, kantor pemerintahan, sekolah dan sebagainya seperti gambaran dalam budaya Jawa.

Segarnya es telah kami rasakan, bedug berkumandang adzan dzuhur terdengar dari Masjid Agung Rembang. Kami pun segera melangkahkan diri menuju masjid untuk tunaikan panggilan Allah. Luas dan nyaman sekali masjid ini, dengan tempat parker yang rapi beserta tempat wudlu yang terjaga kesuciaanya. Masjid ini menjadi pusat Kota Rembang, setiap hari besar tiba maka akan dipenuhi jama’ah sampai lapangan alun-alun. Lantainya pun terbagi dua terdiri lantai utama dan lantai kedua. Namun karena hari biasa maka lantai kedua dikunci denan arti hanya lantai utama yang boleh digunakan. Al-Qur’an telah berjajar rapi di rak yang menempel di setiap tiang masjid untuk disediakan bagi jama’ah yang ingin melantunkankanya. Bedug yang tampak oleh kami adalah di serambi sebelah selatan masjid, dan memiliki khas sendiri atau letaknya dekat tempat wudlu wanita. Sungguh megah masjid tersebut, di bagian utara sedang di bangun menara untuk mengumandangkan adzan. Di depannya terdapat phon yang menyerupai apel tapi rasanya seperti papaya, kami pun mencicipinya entah pohon apa yang tumbuh rindang itu.

Waktu mengantar kami untuk pergi ke pendapa bupati yang sekomplek dengan Musem Kamar Pengabdian Kartini. Kira-kira 300 meter kea rah selatan kita akan menjumpai sebuah obyek wisata pemerintahan dan peninggalan sejarah. Kompleks yang akan kita kunjungi berada di Kantor Daerah Tingkat II Kabupaten Rembang, Jalan Gatot Subroto No. 8 Rembang. Lokasinya terletak di Wilayah Desa Kutoharjo, Kecamatan Kota Rembang. Menempati lokasi yang cukup strategis sebab berada di jalur pantai laut utara (pantura) yang menghubungkan kota Semarang – Surabaya serta kota lainya.

Musem Kamar Pengabdian Kartini menempati bangunan lama, di salah satu ruangan di rumah dinas Bupati Kepala Dati II Rembang. Bangunan yang ditempati museum ini memiliki gaya arsitektur tradisional Jawa, yang berbentuk Joglo. Museum ini termasuk museum yang bersifat memorial, karena baik bangunan atau ruangan yang digunakan sebagai tempat pameran koleksinya merupakan benda-benda peninggalan bersejarah milik R.A. Kartini. Sebelum ke sana kami menemui beberapa satpam yang menjaga untuk memberitahukan bahwa ini pendapa Bupati Rembang. Tampak monumen perahu yang unik berbentuk naga berada di depan pendapa beserta tiang bendera yang menandakan tempat ini sering digunakan untuk upacara. Monument tersebut menarik perhatian kami karena bentuk kekhasannya yang terbuat dari kayu pilihan tahan lama. Kebetulan di pendapa sedang ada acara, namun kami tidak mengetahui jenis acara tersebut. Suasana ramai yang kami rasakan di dekatnya, dan adanya stan-stan kecil yang menyediakan hidangan bagi para tamu undangan. Berdiri pula stan mie sedap dan beberapa pelayanya yang siap menyediakan masakan buatanya. Tentu kami langsung melanjutkan pergi ke museum karena tidak ada hubunganya dengan kedatangan ini.

Di depan museum berdiri beberapa patung seperti kereta kuda, ibu R.A. Kartini, dan lain-lain. Patung ibu Kartini yang membawa buku dengan mengenakan busana tradisional Jawa mengambil hati kami untuk mendokumentasinya. Di pintu gerbang museum tampak tulisan “Karcis Masuk Museum Kartini Rp 2000,-“ artinya bahwa setiap memasuki bangunan seseorang ditarik biaya sejumlah itu untuk merasakanya. Namun karena dalam museum suasananya sepi pengunjung, maka kami tidak ditarik ongkos masuk oleh penjaganya. Tentu dalam hati kami mengucap syukur karena bisa mengetahui rumah yang dahulu ditempati ibu Kartini secara gratis. Tampak beberapa foto-foto kenangan kota Rembang dan para penjaga museum di dekat pintu gerbang museum. Tampilan dalam lemari kaca itu menunjukan foto-foto bupati Rembang kala itu, bangunan bersejarah, peralatan peninggalan kota, perlengkapan R.A. Kartini ketika menjadi istri Bupati Rembang, dan sebagainya.

Raden Ajeng Kartini, merupakan seorang pahlawan kemerdekaan emansipasi wanita isteri Bupati Rembang Djajaadhiningrat. R.A. Kartini dilahirkan di Kota Mayong, Jepara (daerah pantai utara laut Jawa) pada hari Senin Pahing 21 April 1879 atau tanggal 28 Rabi’ul Akhir 1808 (menurut penanggalan Jawa), dan anak ke lima dari keluarga R.M. Sasraningrat, yang pada saat R.A. Kartini lahir menjabat Wedana di Mayong. Museum R.A. Kartini dibangun mengingat jasa-jasanya yang begitu besar untuk bumi pertiwi. Alhamdulillah kami berempat bisa mengunjungi bangunan bersejarah ini. Adapun koleksi museum ini antara lain meja kerja R.A. Kartini, keramik, Buku Kangsa, jambangan atau bak mandi modern, piring makan, cangkir, foto-foto bersama keluarga dan surat Kartini dalam bahasa Belanda serta Buku Kartini yang terkenal, yaitu “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Door Dois Trenis tot Lieth), penyekat ruangan kesatrian, penyekat ruang keputrian dari ukiran Jepara asli jaman dulu.

Museum R.A. Kartini diresmikan pada tanggal 21 April 1967 oleh Menteri Sosial Ibu Suriah Sarjono. Museum buka setiap hari Senin sampai Mingu jam 08.00 – 14.00 WIB. Bangunan bersejarah ini telah kami telusuri, tampak oleh kami acara di pendapa yang telah selesai dan satan-stannya pun sedang membereskan perlengkapanya. Tentu setelah ini kami ingin merasakan bagaimana suasana dalam Rumah Dinas Bupati Rembang. Terdapat perlengkapan music tradisional Jawa yang berada di dalamnya tetapi sudah tidak ada pemainnya. Yang ada adalah para pekerja yang membersihkan ruangan pendapa seperti sedia kala. Ciri khas dalam bangunan itu, terdapat foto R.A. Kartini bersebelahan dengan meja dan kursi kerja pendapa yang sering digunakan untuk acara-acara penting.

Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

TAMAN REKREASI TAMAN KARTINI, 20 MEI 2009

0 komentar


Memasuki kota Rembang dari arah Blora, maka kita bisa langsung menuju Taman Rekreasi Taman Kartini. Taman ini terletak kurang lebih 500 meter dari pusat kota Rembang, menempati lokasi yang sangat strategis, karena berada di jalur jalan raya utama (utara) yang menghubungkan Kota Semarang – Surabaya serta beberapa kota lainya. Kami menuju pantai dengan berjalan kaki menyusuri trotoar dari arah alun-alun Kota Rembang. Sebelum sampai di pantai kami menemui jembatan di tengah jalan yang menghubungkan kanan dan kiri jalan, tentu kami mencoba untuk menyebranginya serta mendokumentasikan kebersamaan ini.

Beberapa meter setelah memasuki pintu gerbang, maka kami mendapati sebuah bangunan megah yang bertuliskan Perpustakaan Multimedia Kota Rembang. Kami sempatkan untuk mengunjungi perpustakaan tersebut, di dalamnya terdapat ratusan buku dan beberapa komputer gratis disedikan di sana. Salah satu petugas menyuruh kami untuk melengkapi identitas di buku tamu, maka Kasnawilah yang mencoba mengisi buku tadi dengan kami berempat. Bangunan yang ada di sebelah pantai itu ternyata adalah Gedung Eks-gereja Kristen Jawa yang sengaja dirubah menjadi Perpustakaan Modern berbasis Teknologi Informasi. Setelah merasakan kesejukan di bangunan tersebut, maka kami melanjutkan ke gerbang pembelian tiket Pantai Kartini. Kami berempat diberikan harga Rp 7000,00 maka segeralah kami iuran untuk membayar biaya masuk.

Kenyamanan udara yang diselimuti aneka jenis pohon yang rindang mulai kami rasakan. Dengan melalui jalan setapak yang permanen, maka kita akan menjelajahi seluruh taman. Di sini pun ada arena bermain anak-anak seperti ayunan, timbangan, komedi putar, tempat luncur, dan lain-lain. Namun kami tidak menyempatkan untuk mencoba beberapa permainan tersebut, kami langsung mencari kakek-kakek yang bisaa menjual ikan pepes dengan mengendarai sepeda kesayangannya. Yudha lah yang tau pertama kali, karena sebelumnya ia pernah mencobanya. Akhirnya kami menenukan kakek itu, yang sedang duduk di dekat pantai bersama pedagang yang lain. Kami pun memilih beberapa ikan pepes yang dijual, dan semuanya ternyata belum pernah aku rasakan. Kakek tersebut merupakan satu-satunya yang menjual ikan pepes kami tidak menghiraukan pedagang yang lain. Ada pedagang es yang menawari, kemudian kami pun membeli sebagai minumanya dan ibu tersebut meminjami tikar untuk kami gunakan mencicipi makanan hasil pilihan dan beristirahat.

Bersebelahan pantai kami pilih untuk merasakan enaknya ikan-ikan pepes pilihan dengan segarnya es. Sepoi – sepoi angin kami rasakan sembari menikmati makanan khas Rembang. Masakan itu kami habiskan dengan nasi putih yang dibawa dari rumah besaerta peralatan makan lainya. Tentu saja kami juga bermain air dengan membawa piring-piring sisa untuk dicuci sampai bersih. Wah nyamanya saat itu, setelah melahapnya kami pun beristirahat beberapa menit di tikar beserta bercerita tentang keelokan pantai kartini Rembang. Saya sempat tertidur sebentar sedang teman yang lain asyik bercerita dan megabadikan keceriaan kami.

Sholat asar pun kami tunaikan di musolla kecil di dekat pantai, setelah membereskan peralatan dan tikar yang digelar. Ternyata pada tempat wudlunya tidak menyala, ada tempat seperti pemandian yang menyediakan air wudlu. Akhirnya kami pun ke sana dan dari beberapa kamar mandi yang menyala hanya satu saja. Astagfirullah, bagaimana dengan fasilitas yang lain? Kebetulan di sana sedang sepi sehinggatidak kami permasalahkan. Tentu ada biaya untuk memasuki kamar mandi meski hanya untuk berwudlu, ya sabar saja namanya juga fasilitas umum. Dengan imam Gunaryo kami memulai sholat, tenyata selain kami dari belakang tampak makmum orang lain.

Beranjak ke pantai, maka kita akan menyaksikan deretan perahu dengan warna-warni yang diparkir di atas tepi laut. Karena saat kami ke sana kebetulan sedang pasang sehingga serbuk pasir tidak tampak dari tepian pantai. Sedangkan pemiliknya istirahat untuk memulihkan tenaga, setelah semalam sentuk bergumul mencari rejeki untuk keluarga. Sebagai obyek wisata andalan, Pantai Kartini telah dilengkapi beberapa fasilitas. Bagi wisatawan yang memiliki hoby memancing, di sini sangat cocok. Apalagi ditemani oleh deburan ombak yang mengalun sepanjang hari tanpa mengenai lelah. Dan bagi wisatawan yang ingin menjelajahi Samudera tersedia beberapa perahu atau motor boat yang bisa disewa dengan ongkos yang cukup murah.
Jenuh bergumul dengan ombak maka kita bisa mampir di bangunan yang dirancang untuk memancing, arena bebek renang kayuhan, dan menikmati tepian pantai. Kami mencoba naik bebek-bebekan tersebut, namun karena tidak ada penjaganya artinya permainan tersebut sedang di liburkan. Maka kami pun mengendarai bebek yang dipasang di tepian dan tergembok rantai untuk merasakanya. Wah tidak bisa bergerak gerutu kami, akhirnya hanya foto-foto lucu yang kami ambil bersama. Di dekat arena itu, terdapat kincir angin yang dihubungkan dengan kabel-kabel listrik kecil dan di sebelahnya kita bisa melihat deretan perahu-perahu unik berjajar di tepian pantai. Perjalanan ini pun berakhir, kami pun mencari bus untuk mengantar pulang. Sungguh pengalaman yang menyenangkan, telah membuktikan kebersamaan ini. Mudah-mudahan abadi selamanya dan sampai jumpa Rembang.

Sabtu, 11 Juli 2009
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

LAWANG SEWU

0 komentar


Lawang Sewu adalah suatu bangunan tua yang terletak di ujung jalan Pemuda persis di sebelah kanan depan Tugu Muda. Gedung ini dahulu merupakan Kantor Pusat Perkeretapaian Hindia Belanda yang pertama dan terbesar (N I S = Nederlansch Indische Spoorweg). Arsitektur modern pertama di Indonesia rancangan Prof. Jacob F. Klinkhamer dan BJ. Queendag (Belanda) yang diresmikan pada tanggal 1 Juli 1907.

Perpaduan beberapa nafas arsitekturnya menghasilkan model yang amat langka. Berlantai dua dengan menara ghotic di liri kanan pintu masuk. Bangunan dengan corak yang lain dan langgam atau aliran bentuk bangunan yang sudah ada waktu itu, strukturnya terdiri atas konstruksi batu-bata beton dengan dimensi besar dan tebal. Bahan baja yang dipakai pada kuda-kuda bangunan utamanya. Bahan kayu juga digunakan untuk kuda-kuda pada sebagian ruang, rangka plafond, pintu dan jendela. Penutup atap memakai genteng cetak dengan detail-detail talang terekspos dengan bentuk dinamis dan unik. Lantainya memakai tegel P C.

Menyusuri lorong-lorong di dalam gedung Lawang Sewu sungguh merupakan perjalanan yang mengagumkan. Menikmati arsitektur pada interior gedung itu menegaskan kembali kenyataan bahwa Lawang Sewu adalah “mutiara arsitek yang tiada duanya” pada saat pagi hari sinar matahari menerobos masuk melaluijendela-jendela kaca berlukiskan mosaic. Bias sinar matahari dipancarkan di dalam ruang melalui semburat warna-warni kaca mosaic yang berupa warna merah, kuning, biru, hijau sehingga terbentuk nuansa warna yang indah dan luar biasa.

Menyaksikan tekstur dan jenis ukiran mosaic yang indah mempesona itu, sungguh jelas tampak keaslian kaca-kacanya. Dengan seni permainan cahaya secara prima yang di goreskan di atas kaca, seolah penggambaran lewat kata-kata pada beragam lukisan mosaic memantulkan suatu makna yang sangat mendalam. Ada mosaic yang memantulkan siluet seorang pendeta, siluet bunga dan bermacam-macam lagi.

Keunikan Lawang Sewu adalah banyaknya pintu dan jendela di setiap ruang dan lorong. Dalam satu ruangan saja bisa terdapat lima sampai sepuluh pintu dan jendela. Bisa dibayangkan, berapa jumlah pintu dan jendela dalam suatu gedung seluas 14.698 m2. Sungguh suatu keunikan yang menarik, tetapi cenderung ganjil. Bagi wisatawan yang berkunjung ke gedung ini diperlukan kecermatan dan ketelitian tinggi bila ingin menghitungnya. Sudah banyak terjadi bahwa selam ini ada wisatawan-wisatwan yang berusaha menghitung namun tidak seorangpun sanggup menyelesaikanya. Untuk dapat menghitung semua pintu dan jendela yang ada di Lawang Sewu ini membutuhkan waktu dua sampai tiga hari. Karena banyaknya pintu dan jendela tersebut maka tidak heran bila bangunan ini dinamakan Lawang Sewu. Lawang berarti pintu, Sewu berarti seribu. Jadi Lawang Sewu berarti Seribu Pintu dalam bahasa Jawanya. Pada tahun 2009 pihak entertainment telah mengambil nama ini untuk sebuah film horror. Karena Lawang Sewu meskipun berada di tengah kota namun memiliki misteri tersendiri. Hal itu terjadi karena bangunan bersejarah ini sudah digunakan dan tidak berpenghuni lagi. Masyarakat sekitar ada yang mengatakan sering dijumpai hantu dari pemerintah Kolonial Belanda yang waktu itu menempati. Ini menjadi cerita dalam film tersebut. Tentu animo seseorang untuk melihat film ini sangat banyak terutama masyarakat Semarang sendiri.

Lawang Sewu telah mengalami serangkaian penggunaan. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini digunakan sebagai Kantor Perkeretaapian Eksploitasi Tengah di bawah perusahaan Rikuyu Sokyoku. Penulis saying belum pernah ke dalam ruangan, namun hanya menikmati suasana di luar bangunan yang terkenal di nusantara. Beberapa sumber telah membantu penulis dalam menceritakan keelokan gedung peninggalan sejarah yang telah berumur lama ini. Setelah Indonesia merdeka digunakan sebagai Kantor Jawatan Kereta Api Indonesia (DKARI). Dan ketika berlangsung peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang, di gedung tua ini terjadi ajang pertempuran yang sengit antara A M K A (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kompetai dan Kido Buati Jepang. Kini, secara administrative Lawang Sewu menjadi kewenangan Knwil Departemen Perbuhungan Jateng.

Selasa, 14 Juli 2009

Sumber : Potensi Wisata Jawa Tengah berwawasan Lingkunan

Dinas Pariwisata kota Semarang

Observasi dan Pengambilan foto obyek

Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

Taman dan Kolam Renang Tirtonadi

0 komentar

Pesatnya pembangunan Industri di segala bidang di daerah perkotaan di satu pihak dan tingginya ledakan penduduk di pihak lain dapat membawa dampak yang cukup memprihatinkan. Hal ini dapat terjadi karena mempersempit tempat bermain bagi anak-anak dan untuk sekedar mendapatkan udara yang bersih. Zaman sekarang sudah seharusnya para perencana pembangunan suatu kota menyiapkan beberapa taman yang berfungsi sebagai paru-paru kota, dengan tujuan utama untuk menyaring udara kotor, sehingga udara yang kita hirup merupakan udara yang bersih dan murni.
Kabupaten Dati II Blora telah memiliki sebuah taman rekreasi yang pernah jaya sesudah zaman kemerdekaan RI hingga sampai akhir tahun 1960 –an. Taman ini dikenal oleh masyarakat sebagai Taman Rekreasi Tirtonadi. Letaknya ditepi sungai kecil yaitu sungai Grojogan. Obyek ini memiliki lokasi strategis dan berada ditengah-tengah kota Blora, atau lebih cocok disebut sebagai paru-paru kota Blora. Tirtonadi memang cocok untuk melepas beban dari rutinitas kota dan bagi muda-mudi sangat mengasyikkan menikmati suasana kota sambil berangan-angan tentang hari esok yang indah.
Dahulu saat waktu kecil aku sering pergi ke tempat ini. Bersepeda dengan teman-teman untuk mengisi waktu liburan. Terdapat patung gajah raksasa yang sulit aku tunggangi karena ketinggianya. Keberadaan patung tersebut telah hilang karena lokasi yang akan diubah menjadi kolam renang. Tanpa membayar biaya masuk aku bisa menikmati taman yang menjadi kegemaran masyarakat untuk mendatanginya. Kolam renang yang telah dibangun terbagi dua antara kolam dewasa dan anak-anak. Tentu menarik perhatian warga untuk mendatanginya. Saat ini wisatawan yang hendak mendatanginya dikenai biaya masuk untuk menyegarkan badan di air yang jernih.
Taman yang memiliki luas areal 1,5 hektar ini merupakan yang baik untuk keluarga bermain-main bersama-sama, anak-anaknya, atau pun sambil bercengkrama. Taman ini memiliki beberapa fasilitas seperti kolam renang, ayunan, timbangan, tempat luncur, bandulan, aneka binatang buatan seperti jerapah, onta, kijang, dan lain-lainnya. Aneka tumbuh-tumbuhan dan beberapa jenis burung sebagai pelengkap keindahan.
Pada masa jayanya obyek wisata ini merupakan tempat rekreasi yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Blora dan sekitarnya seperti Rembang, Pati, Kudus, Grobogan bahkan dari Bojonegoro (Jawa Timur). Tirtonadi merupakan perpaduan antara wisata alam berupa air sungai Grojogan, kebun binatang mini, serta wisata budaya seperti tempat pementasan budaya tradisional antara lain Wayang dan Tayuban. Lokasi ini juga pernah untuk diadakan lomba melukis oleh Paguyuban Seni Rupa Blora dan aku menjadi salah satu pesertanya dengan teman-teman yang berpartisipasi.
Bangunan yang berada di belakang Kantor Radio Gagak Rimang ini juga tidak ketinggalan music modern seperti orkes melayu atau dangdut yang cukup banyak peminatnya. Khusus untuk gerak tari yang diatur serempak antara penari, penabuh gending serta penonton yang sewaktu-waktu turut sebagai pemain. Adapun tujuannya untuk menjalin keakraban dan persaudaraan.
Museum Mahameru terdapat di dalam taman ini dan menjadi tempat untuk benda-benda peninggalan sejarah peradapan Blora. Berbagai temuan situs di Blora hasil penggaliannya diletakkan di museum ini. Plank tulisan Museum Mahameru juga telah terpasang di bagian selatan taman. Sehingga bagi masyarakat yang terkagum-kagum melihat benda bersejarah bisa mengunjungi daerah ini.
Obyek wisata ini sebenarnya potensial untuk lebih dikembangkan sebagai arena permainan anak-anak, keluarga, serta mereka yang menanjak dewasa. Sekarang Taman Rekreasi Tirtonadi sedang ditata dan dibenahi kembali. Bisakah Taman ini meraih kembali zaman keemasannya seperti tempo dulu?

Selasa, 21 Juli 2009
Sumber : Potensi Wisata Jateng
Observasi dan pengamvilan foto obyek
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

MASJID AGUNG DEMAK

0 komentar


Berbicara mengenai Masjid Agung Demak tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya Kerajaan Islam Demak. Begitu pula dalam membicarakan Kerajaan Islam Demak tentunya kita akan berbicara juga tentang runtuhnya Kerajaan Majapahit. Itulah kaitan sejarah yang sangat erat di antar ketiganya dalam hubungan penyeban dan perkembangan Agam Islam di Jawa terutama di Jawa Tengah.

Sejak tahun 929-949 Masehi saat Kerajaan Majapahit diperintah oleh Prabu Sindok, diperkirakan hubungan antara para saudagar di Jawa dengan para pedagang di Persia dan Gujarat sudah mulai terjalin. Para pedagang dari ke dua bangsa pada waktu itu sudah mengadakan kunjungan-kunjungan berarti, dimana pedagang dari Jaw pergi ke Persia dan Gujarat. Sebaliknya para pedagang Persia dan Gujarat dating ke Jawa untuk berdagang.

Masyarakat Jawa di zaman Kerajaan Majapahit memeluk agama Hindu dan Budha yang kemudian bergabung menjadi satu yaitu Syiwa Budha. Rupanya masyarakat Jawa masih merasakan adanya kepincangan-kepincangan di dalam kehidupan mereka setiap hari. Di kalangan rakyat mulai timbul kegelisahan dan rasa ketidakpuasan terhadap kenyataan yang mereka alami. Barangkali agama Hindu dan Budha yang pernah memberlakukan kehidupan menurut kasta seperti, Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Syudra (kasta-kasta akhirnya ditiadakan Sang Budha Gautama) membuat mereka harus memilih jalan lain.

Agama Islam berkembang begitu pesat dan meluas di kalngan rakyat. Maka untuk lebih melancarkan penyebarluaskan Agama Islam didirikanlah beberapa pos penyiaran, misalnya di Jawa Barat yang dipelopori oleh Sunan Gunung Jati, Jawa Tengah oleh Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Muria, dan di Jawa Timur oleh Sunan Ampel. Hal itu tentunya ditentang keras oleh para penguasa Majapahit, terlebih Girindra Wardhana yang telah menakhlukan Prabu Brawijaya V yang memerintah Majapahit antara tahun 1468-1478 Masehi.

Berdirinya Kerajaan Islam Demak berkaitan erat dengan keberadaan Masjid Agung Demak. Menurut buku “Babad Demak” sebagaimana disebutkan Umar Hasyim dalam bukunya yang berjudul “Sunan Kalijaga” (1974), dibangunnya Masjid Agung Demak ditandai candra sangkala “Lawang Trus Gunaning Janma” yang menunjukan angka tahun saka 1399 atau tahun Masehi 1477. Sedangkan pembangunan masjid selesai pada tahun 1401 Saka atau 1479 Masehi seperti terdapat pada gambar binatang bulus (penyu) di dalam tembok mihrab Masjid Agung Demak. Kepala bulus = 1, empat kaki bulus = 4, badan bulus = 0, dan ekor bulus = 1. Gambar bulus yang melambangkan angka tahun Saka 1401 diperingati menurut candra sangkala Memet. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa Masjid Agung Demak berdiri pada tahun Saka 1401 atau tahun Masehi 1479.

Kini, Masjid Agung Demak berdiri dengan megahnya di pusat kota Demak berhadapan dengan alun-alun. Salah satu tiang penyangganya disebut Saka Tatal karena terbuat dari tatal (potongan-potongan kayu) oleh Sunan Kalijaga. Setiap tahun yakni pada bulan Maulud selalu diselenggarakan tabligh akbar dalam rangka memperingati Maulud Nabi Muhammad saw. Dalam uapacara memperingati Maulud Nabi, di halaman masjid ditempatkan gamelan dan kompleks masjid dihiasi berbagai macam dekorasi yang indah dan menarik. Ketika tiba waktunya dimana pengunjung telah melimpah, maka gamelan ditabuh bertalu-talu diiringi tembang/lagu-lagu keagamaan dan diselingi dakwah atau ceramah agama.

Kamis, 16 Juli 2009

Sumber : Potensi Wisata Jateng

Observasi dan rekreasi dari Bali

Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

TUGU MUDA

0 komentar
Setiap bangsa, dalam sejarahnya tak lepas dari perjuangan demi membela negara kelahirannya. Ada yang berjuang untuk mencari bumi baru yang dapat memberikan kehidupan dan penghidupan sejahtera, ada yang berjuang untuk menggali lading makmur, ada yang berjuang untuk membebaskan bumi kelahirannya dari kolonialisme, dan ada yang berjuang untuk membangun pencerahan berpikir.
Christophorus Columbus dan Amerigo Vespuci bersusah payah mengarungi lautan dan samudera luas dan ganas untuk mencapai benua Amerika adalah suatu contoh perjuangan orang Spanyol dan Portugis dalam mencari bumi baru yang penuh susu dan madu. Belanda dan Inggris mempunyai daerah-daerah jajahan hamper di seantero dunia merupakan wujud ekspansi di dalam upaya mendapatkan lading-ladang makmur yang memberikan kehidupan dan penghidupan sejahtera bagi rakyatnya. Gerakan Ahimsa pimpinan Mahatma Ghandi di India, perjuangan Sun Yat Sen di Cina, dan Ramon Magsasay di Philipina adalah usaha-usaha untuk membebaskan bumi kelahirannya dari eksploitasi colonial. Sedangkan pemberontakan yang dilancarkan kaum Zapatista (suku Indian) di Meksiko dan masyarakat kulit hitam di Afrika Selatan menghapuskan dominasi kekuasaan pemerintahan kulit putih dengan politik aparteidnya merupakan bentuk-bentuk perjuangan untuk memperoleh kebebasan berpikir, berpendapat, dan mengekspresikan kemampuan dan kreatifitasnya setara dengan ras, suku atau bangsa lainnya dalam berbagai aspek kehidupan.
Indonesia juga tidak luput dari perjuangan demi perjuangan, sejak abad ke-17 untuk suatu pembebasab dari eksploitasi kolonialis. Betapa sejarah bangsa Indonesia selalu berkutat di antara perjuangan-perjuangan. Dan betapa tidak mudah proses yang dibutuhkan untuk sampai pada kemerdekaan fisik, apalagi kemerdekaan social, budaya, dan ekonomi masyarakatnya. Agaknya sangat menarik untuk diketahui dan dikaji, bagaimana proses-proses yang menggiring untuk sampai pada proses kematangan. Mulai dari masa sebelum berdirinya Boedi Oetomo (tahun 1908) sejak berdirinya organisasi itu hingga masa pemulihan kedaulatan tahun 1949. Kisah-kisah di masa perjuangan melawan penjajah Belanda dan Jepang, masa pendaratan Sekutu, msa persiapan dan proklamasi kemerdekaan, agresi militer Belanda serta berbagai pergolagan di dalam negeri sendiri antara tahun 1950-1965 yaitu sejak peristiwa PRRI, PERMESTA, DI/TII sampai penumpasan G30S/PKI.
Untuk mengenang peristiwa-peristiwa bersejarah tersebut biasanya dibangun monument patung atau museum yang melambangkan, melukiskan, dan mengoleksi makna-makna suatu perjuangan. Sebagai contoh, Tugu Monas di Jakarta didirikan untuk peringatan cermin perjuangan bangsa Indonesia sepanjang zaman, dan sebagi tugu Pancasila yang dicetuskan tanggal 17 Agustus 1945. Bangunan Tugu Monas baik interior dan nilai-nilai perjuangan bangsa Indonesia yang luhur dan agung.
Di Semarang patriotism dan pemudaisme masyarakatnya terutama pemuda-pemuda disimbolkan dengan dibangunnya TUGU MUDA. Monument bersejarah ini didirikan atas prakarsa Badan Koordinasi Pemuda Indonesia yang kemudian diperkuat oleh Panitia Pembaharuan Tekad Pemuda yang diketuai Walikota Semarang saat itu, Hadi Subeno Sosrowardoyo. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Budiono pada tanggal 10 November 1950 dan diresmikan pada tanggal 20 Mei 1953 oleh Soekarno, Presiden pertama RI.
TUGU MUDA sebagai monument bersejarah yaitu untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur dalam peristiwa heroic “Pertempuran Lima Hari di Semarang”. Adalah bukti sejarah dimana kegigihan dan keuletan perjuangan, keteguhan hati dan tekad heroic para kawula muda Semarang mempertahankan kemerdekaannya melw\awan imperialism Jepang.
Pertempuran tersebut terjadi pada tanggal 14-19 Oktober 1945. Jadi rekaman fragmen-fragmen sejarah terukir pada bentuk dan struktur tubuh Tugu Muda adalah sejarah pasca kemerdekaan. Sebagaimana bentuk-bentuk bangunan bersejarah lain yang penuh arti perjuangan. Tugu Muda pun dibangun dengan sentuhan-sentuhan seni yang bermakna dan bernilai. Keseniannya terletak pada bentuk dan relief bangunannya. Bentuk Lilin mempunyai makna semangat perjuangan yang tak kunjung padam dan pantang menyerah. Sedangkan relief yang terdapat pada kaki tugu, antara lain:
 Relief Pertempuran yaitu menggambarkan semangat dan keberanian angkatan muda dalam mempertahankan kemerdekaan.
 Relief Hongerodeem yaitu relief yang menggambarkan rakyat yang tertindas pada masa pendudukan Jepang yang dalam keadaan kelaparan sehingga mewabah penyakit hongerodeem (busung lapar)
 Relief Kemenangan yang menggambarkan hasil jerih payah rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
 Relief Penyerangan yang mengisahkan perlawanan rakyat untuk melepaskan diri dari belenggu penjajah.
 Relief Korban yang menunjukkan betapa banyak jatuhnya korban.
Semuanya merupakan ekspresi keheroikan orang Semarang, di samping ekspresi estetis untuk memperindah tempat yang diagungkan tersebut. Warna-warna yang membalut monument ini pun mengambil warna almi dari tanah dan batu. Ini memberikan gambaran yang realistic tentang sosok Tugu Muda yang mengandung kisah-kisah berwibawa, kisah-kisah besar yang agung.
Banguna bersejarah ini terletak pada muara jalan Pemuda, jalan Imam Bonjol, jalan Suryopranoto, jalan Dr. Sutomo, dan jalan Pandanaran dengan Lawang Sewu serta Museum Mandala Bhakti sebagai primadonanya. Suasananya sangat menyenangkan karena di sekitarnya hidup berbagai jenis tanaman kehijau-hijauan cermin konsep pembangunan yang menghargai kualitas lingkungan hidup. Apalagi adanya pancuran-pancuran air yang memancar tiada henti ditambah adanya lampu beraneka warna yang menyuguhkan nuansa romantic, estetis dan bersahabat tatkala para wisatawan ingin sejenak melepas lelah setelah bergelut dengan rutinitas hidup sehari-hari. Suasana Tugu Muda akan lebih mempesona bila disaksikan di saat malam hari. Teman-teman jika tetarik dating saja ke kota Semarang, Insya’ Allah keindahan wisata yang berbeda akan kita dapatkan.

Rabu, 15 Juli 2009
Sumber : Potensi Wisata Jateng
Observasi dan pengambilan foto obyek
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

MASJID BAITURRAHMAN

0 komentar
Jawa Tengah mempunyai sejarah sangat istimewa dalam pengembangan dan dakwah Islam terutama dengan usaha Wali Sembilan atau Wali Songo. Usaha dan peranan para wali di dalam menyiarkan agama Islam khususnya di pulau Jawa atau di Indonesia umumnya dengan segala hikmah kebijaksanaan telah menghadirkan begitu banyak masjid besar, agung, dan bersejarah.
Semarang sebagai ibukota Propinsi Jawa Tengah pun tidak luput dari sejarah perkembangan Agama Islam, bahkan keberadaan kota ini sendiri dilatarbelakangi oleh sejarah penyebaran Agama Islam di pulau Jawa. Seperti diketahui, pada pertengahan abad XVI Masehi di Semarang telah dibangun masjid tertua di Kotamadya. Dari waktu ke waktu Agama Islam terus berkembang dan jumlah masjid makin bertambah.
Pada tahun 1955 dibangun sebuah Yayasan Masjid “Candi” yang dimaksudkan untuk membangun masjid di Semarang. Tugas ini berhasil diselesaikan oleh yayasan dengan didirikanya sebuah masjid di jalan Merapi Candi Semarang pada tahun 1958. Akan tetapi seiring dengan pesatnya perkembangan kota dan jumlah penduduk yang selalu meningkat, maka Gubernur Moechtar memandang perlu untuk mengimbanginya dengan membangun masjid baru yang bernilai kepropinsian, mengandung unsur-unsur kesenian dan modern, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai kebudayaan Jawa Tengah dan sekaligus mrupakan bangunan monumental.
Untuk merealisasikanya maksud Gubernur, Yayasan Masjid “Candi” mulai mengajukan permohonan untuk membangun masjid di dekitar lapan Pancasila yang akan diberi nama Masjid Baiturrahman. Setelah permohonan tersebut dikabulkan pada tanggal 30 April 1963, maka upaya pembangunan masjid segera dilakukan. Pekerjaan tahap pertama mulai dengan membuat fondasi pagar keliling melingkari tanah seluas 11.750 meter persegi dan dapat diselesaikan pada tahun 1964. Pekerjaan selanjutnya sempat terhenti selama hamper tiga tahun (1965-1967) akibat peristiwa pemberontakan G30S/PKI.
Gubernur Moenadi yang memimpin Propinsi Jawa Tengah setelah Moechtar, akhirnya berinisiatif untuk melanjutkan gagasan pendahulunya. Sebelumnya beliau menyarankan agar nama Yayasan Masjid “Candi” diganti menjadi Yayasan Masjid “Baiturrahman”. Dan pada tanggal 10 Agustus 1968 pembangunan masjid dilanjutkan lagi dengan memancangkan tiang-tiang pancang sebanyak 137 buah untuk fondasinya. Pada saat yang sama pihak yayasan juga membangun gedung Yayasan Masjid di jalan Panandaran no. 126 Semarang, masih satu kompleks dengan Masjid. Peresmian gedung yayasan ini dilakukan pada tanggal 27 Februari 1969.
Pada tahun 1973, pekerjaan pembangunan masjid lagi-lagi mengalami hambatan. Kali ini yang menjadi kendala utama adalah kesulitan biaya. Namun tekad Gubernur Moenadi untuk melanjutkan dan menyelesaikan pembangunan masjid tidak pernah padam. Sehingga pada tanggal 7 Juli 1973 terjadilah serah terima tanggung jawab penyelesaiaan pembangunan masjid dari Yayasan Masjid Baiturrahman kepada Gubernur.
Setelah mengambil alih tanggung jawab dari pihak yayasan, maka Gubernur menunjuk PT. Pembangunan Jawa Tengah “Teguh” untuk melaksanakan kelanjutan pemabngunan Masjid dengan biaya sebesar Rp. 216.739.000 di luar biaya pembangunan menara. Pekerjaan ini selesai pada akhir tahun 1974. Untuk penjagaan waktu, Masjid dilengkapi dengan sebuah jam besar yang disumbangkan oleh H.M. Soelchan, seorang pengusaha terkenal di Semarang. Masjid Baiturrahman akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada sore hari Ahad tanggal 1 Zulhijjah tahun 1394 Hijriyah atau tanggal 15 Desember 1974 Masehi.
Penulis merasakan keagungan masjid saat waktu dzuhur tiba dan banyak jama’ah dating dari beberapa daerah. Letak yang strategis berada di bagian barat Simpang Lima menjadikan masjid ini ramai setiap hari. Masjid bersejarah yang dibangun di pusat kota Semarang ini berbentuk pendopo yang menggambarkan kekhasan Jawa Tengah. Secara garis besar, bangunan masjid ini terdiri dari:
1. Lantai teras berbentuk balkoni untuk tempat sholat wanita dengan kapasitas kurang lebih 500 orang,
2. Lantai ke dua untuk tempat sholat pria berkapasitas kurang lebih 2.500 orang,
3. Lantai bawah untuk tempat wudlu wanita dan pria, ruang pertemuan ruang kuliah, ruang perpustakaan dan ruang/Balai Nikah/Kantor.
Dengan demikian, Masjid Baiturrahman tidak hanya digunakan untuk kepentingan ibadah sholat tetapi digunakan pula untuk da’wah, pendidikan dan social. Di samping bangunan masjid telah dilengkapi dengan sarana prasarana lain berupa:
1. Gedung Yayasan untuk kegiatan yayasan dalam mengurus masjid,
2. Rumah Nadlir, yang mengurus rumah tangga masjid,
3. Asrama untuk kepentingan para tamu pelajar dan mahasiswa yang ada hubungannya dengan kegiatan masjid,
4. Tanah seluas kurang lebih 2.300 meter persegi yang akan dipergunakan untuk membangun Plaza dan sewaktu-waktu dapat dipergunakan untuk menampung luapan para pengunjung sholat pada waktu sholat Ied dan juga untuk tempat parker kendaraan.
Kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Baiturrahman meliputi bidang peribadatan, bidang dakwah dan pendidikan serta bidang perpustakaan.
1. Bidang Peribadatan
a. Mengadakan sholat Ied, baik Idul Fitri maupun Idul Adha
b. Mengatur pelaksanaan zakat fitrah, penyembelihan qurban, dan lain-lain.
2. Bidang Dakwah dan Pendidikan
a. Merencanakan dan menyelenggarkan kegiatan pembangunan Masjid dan Langgar dalam daerah Kotamadya Semarang.
b. Mengatur dan melaksanakan kegiatan pendidikan dan dakwah, seperti pengajian, ceramah agama, diskusi, dan lain-lain.
c. Merencanakian dan membangun sekolah-sekolah seperti STK, SD, Ibtidai’yah, dan lain-lain serta mengadakan kegiatan pendidikan, social, dan kebudayaan baik insidenti maupun kontinyu.
3. Bidang Perpustakaan
a. Mengadakan perpustakaan yang representative pada Masjid Baiturrahman
b. Memelihara, mengembangkan dan mengatur penggunaan perpustakaan di Masjid Baiturrahman.
Sangat beragam acara yang diadakan masjid agung ini dan tentu untuk kebutuhan masyarakat Semarang. Penulis hanya merasakan suasana peribadahan yang terjadi secara jama’ah begitu ramai dan padat pengunjung. Saat itu juga bersama dengan kakak yang mengantar ke rumah kost dikenalkan dengan masjid megah ini. Seraya mengucap syukur karena telah menunaikan ibadah sholat di masjid yang bersejarah ini. Di sekitar masjid banyak dijumpai pedagang kaki lima yang menjajakan jualanya dengan harapan dibeli para pendatang. Tulisan arab yang termaktub di pintu gerbang menambah kemegahan bangunan ini. Antrian orang yang mengambil air wudlu telah aku rasakan di lantai bawah sendiri. Deretan parker yang tertata rapi juga menjadi pemandangan tersendiri tetapi tetap harus waspada dengan keamanannya. Masjid ini terletak di jantung kota jadi setiap hari kepadatan pengunjung menjadi fenomena yang lumrah. Saatnya ke meninggalkan masjid karena kewajiban telah ku lakukan sekarang hendak pergi ke tempat tujuan.


Selasa, 14 Juni 2009
Sumber : Yayasan Masjid Baiturrahman
Potensi Wisata Jawa Tengah
Observasi dan pengambilan foto obyek
Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

Candi Borobudur

0 komentar

CANDI BOROBUDUR

Perjalanan hidup manusia di muka bumi sungguh unik dan sarat dengan misteri-misteri kebesaran yang patut dikaji secara mendalam. Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling tinggi derajatnya disbanding makhluk-makhluk lain karena dibekali akal dan budi kerap melakukan perubahan-perubahan besar dan tanda-tanda ajaib pada lingkungannya. Citra Allah yang melekat pada diri manusia memang ditakdirkan untuk menampakan ke- Mahaan Sang Illahi terhadap seisi bumi.

Karya-karya besar dan agung dating silih berganti dari zaman ke zaman. Pengejawantahan dalam kisah penciptaan bumi dan alam semesta terus berlanjut dan tampak nyata dalam karya dan usaha insane manusia. Rotasi sejarah terus menggelinding dan berputar mengitari kosmos dengan meninggalakan jejak-jejak memori masa silam untuk dikenang sepanjang hayat. Rasanya pertama kali ke lokasi bersejarah ini yaitu saat menduduki sekolah SD, ingin sekali lagi mengunjungi tempat terkenal ini. Jika ada kesempatan, maka akan aku ambil untuk melihat kemegahan bangunan yang terletak di kota Magelang ini.

Kisah-kisah kebesaran masa lampau sesungguhnya tidak hanya dialami oleh suatu masyarakat tertentu di muka bumi melainkan ia menyebar sejagad. Di belahan bumi bagian barat, timur, utara, dan selatan selalu ada tanda-tanda keajaiban yang terkadang sulit dimengerti apabila dikaitkan dengan konteks perkembangan teknologi masa kini dan masa dating. Bangunan-bangunan berupa menara, pyramid, dan candi yang unik, agung, megah, besar, dan menjulang tinggi ke angkasa semuanya dibangun pada saat manusia belum menguasai teknologi. Tercatat ada tujuh keajaiban di dunia dan salah satu di antaranya adalah Candi Borobudur.

Candi Borobudur merupakan salah satu symbol keesaran bangsa Indonesia. Nenek moyang bangsa Indonesia rupanya ingin menunjukkan dirinya sebagai salah satu bangsa yang besar dan patut dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Memang bukan factor “pamer kekuatan” yang memotivasi tujuan pembangunan candi melainkan dorongan religi dan kerinduan memiliki tempat khusus untuk mendekatkan diri dan berkomunikasi dengan Sang Pencipta Alam Semesta.

Konon, Candi Borobudur dibangun sebagai tempat bersemedi atau untuk mengheningkan cipta bagi uamat beragama Budha sesuai dengan namanya. Borobudur berasal dari kata Boro dan Budur. Boro dari bahasa Sansekerta “Byara” yang berarti kuli atau candi (tempat suci untuk keperluan ibadat), sedangkan Budur dari bahsa Bali “Beduhur” yang artinya di atas bukit. Jadi, Borobudur artinya peribadatan di atas bukit.

Sejarah menyatakan, candi yang terletak di desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang ini merupakan candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno dari Dinasti Syailendra. Dibangun antara abad VII dan IX atau sekitar tahun 850 Masehi oleh Raja Samaratungga. Kini, Candi Borobudur telah mengalami dua kali pemugaran yaitu pertama pada masa penjajahan Belanda antara tahun 1907-1911 yang dilakukan oleh Theodorus Van Erp. Masa renovasi ke dua dilakukan pada tahun 1973-1983 oleh pemerintah Indonesia dengan bantuan UNESCO.

Keajaiban Candi Borobudur terletak pada cara pembuatan dan tata arsitekturnya yang unik. Tidak mudah untuk dimengerti bagaimana cara caranya para pekerja mulai meratakan puncak bukit dan melakukan penggalian tanah tanpa bantuan tenaga mesin, misalnya buldoser. Bagaimana membuat balok-balok batu yang jumlahnya jutaan buah dari batuan andesit, menyusun balok-balok batu yang berat menjadi sebuah bangunan besar bertingkat tujuh tanpa menggunakan teknologi beton bertulang dan semen, merekatkan balok-balok batu hanya dengan putih telur, membuat ratusan arca, ribuan relief cerita dan relief dekorasi. Sulit dibayangkan, berapa banyak tenaga, waktu, dan putih telur yang dipakai untuk keperluan itu. Apalagi lokasi candinya berada di atas bukit yang berketinggian 269 meter dari permukaan laut. Aneh tapi nyata!

Diperhatikan dari kejauhan, Candi Borobudur menyerupai stupa yang merupakan satu kesatuan dari dua bagian atau dua gaya bangunan. Stupa ialah banguan berbentuk kubah yang berada di atas lapik dan diberi paying di atasnya. Bangunan bagian atas berbentuk stupa induk berlandaskan tiga teras bulat yang menggambarkan gaya arsitektur India. Dalam konsep agama Budha, Stupa merupakan pantulan (replica) daripada alam semesta. Bangunan bagian bawah berbentuk piramida berundak-undak dengan banyak sudut persegi cirri khas gaya arsitektur Jawa yang terinkulturasi. Sedangkan secara keseluruhan Candi Borobudur tidak memiliki ruangan sebagai tanda penghormatan kepada roh-roh baik. Dengan demikian, untuk mengagumi dan menelusuri sejarah pada seluruh bagian fisiknya para wisatawan harus dapat berjalan mengelilingi candi. Cara ini dinamakan “Pradaksina”.

Dalam garis besarnya, bangunan candi terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama, dinamakan “Kamadhatu”, yakni bagian pondasi yang menggambarkan alam kehidupan manusia yang sudah dapat mengendalikan hawa nafsu. Terdapat 160 relief adegan dari Karmawibhangga yang melukiskan tentang hokum sebab akibat. Bagian kedua, dinamakan “Rupadhatu” menggambarkan alam kehidupan manusia yang sudah dapat mengendalikan hawa nafsunya, tetapi masih terikat oleh bentuk. Terdapat empat tingkat atau lorong yang berbentuk bujur sangkar yang dikelilingi pagar langkah pada sisi luar masing-masing. Pada dinding-dinding terlihat relief berisi cerita Sansekerta, Gandawyuha, Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Bagian ketiga disebut “Arupadhatu” mengisahkan alam nirwana atau sunyata, dilambangkan tiga teras berundak berbentuk lingkaran.

Arca Budha yang terdapat di Candi berjumlah 504 buah. Di dalam stupa berlubang dari tiga teras di bawah stupa stupa induk terdapat 72 buah arca yang disebut “Wajra Satwa”. Di dalam relung-relung pada tingkat Rupadhatu terdapat arca sebanyak 432 buah, disebut “Dyani Budha” dimana setiap sisi candi dari tingkat I sampai tingkat IV mempunyai sikap tangan “Mudra”. Sisi sebelah timur adalah “Aksyoba” dengan sikap tangan Bumi “Sparsa” symbol kekuatan iman. Sisi Barat adalah “Amitaba”, sikap tangan “Dyana Mudra” menggambarkan orang sedang bermeditasi. Sisi bagian Selatan “Ratna Sumbawa” dengan sikap tangan “wara mudra”, lambing cinta kasih. sisi bagian utara “amogasidha” dengan sikap tangan “Abaya” Mudra” symbol keperkasaan dan tidak takut terhadap bahaya.

Sekilas menelusuri sejarah, perbincangan mengenai Candi Borobudur tentunya tak lepas dari kisah hidup dan perana Sang Budha Gautama. Banyak relief pada dinding candi yang menceritakan riwayat hidup Budha Gautama sejak lahir sebagai pangeran (Pangeran Sidharta) di taman Lumbini, Nepal. Pangeran Sidharta meninggalkan istana untuk memulai hidup baru sebagai pertapa (Wanaprasta). Dalam pengembaraanya ia sempat bertemu dan berguru pada beberapa pertapa, yaitu Brahmapani, Rydraka, Arada Kalapa dan lima orang lainnya. Rupanya ilmu yang diterima tidak memuaskan sehingga beliau melakukan pertapaan sendiri di bawah pohon Bodhi di kota Bodhgaya, India dan memperoleh pengetahuan tertinggi yang disebut Bodhi. Pangeran Sidharta kemudian mengubah namanya menjadi Budha Gautama.

Relief-relief pada candi dapat dipelajari wisatawan mulai dari pintu gerbang sebelah Timur dan tiap-tiap tingkat berjalan ke kiri. Pintu gerbang berjumlah 24 buah, yaitu 6 buah pada tiap sisi candi yang menuju ke stupa induk. Gapura pada pintu paling bawah sudah tidak lengkap hiasannya kecuali ornament kepalanya yang masih ada. Sedangkan pada gapura ke empat bentuknya sama disebut “Dahsyat” menuju Nirwana. Masing-masing pintu gerbang dijaga oleh arca singa. Singa ini merupakan hewan tunggangan Sang Budha waktu naik ke Nirwana untuk memberitahukan kepada dewa-dewa tentang penjelmaannya yang akan dating sebagai manusia.

Candi Borobudur dari waktu ke waktu terus bertambah usia. Seiring dengan itu, ia harus dirawat bahkan dipugar akibat kerusakan baik oleh pengaruh alam maupun perbuatan manusia. Pekerjaan pemugaran pertama kali dilakukan pada tahun 1907 sampai 1911. Pemugaran kali ini hanya dimaksudkan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut. Bagian dari temboknya masih tampak miring dan mengkhawatirkan. Gapura-gapura hanya beberapa saja yang dipasang kembali. Begitu pula pagar-pagar langkan, relief, dan patung Budha dibiarkan tak terpasang. Akan tetapi kerusakan makin bertambah. UNESCO sebagai badan PBB yang berkepentingan melindungi dan melestarikan peninggalan sejarah budaya akhirnya turun tangan atas permintaan Pemerintah Indonesia. Prof. Dr. Coremans (Belgia) dikirim ke Indonesia untuk meneliti sebab musabab kerusakannya. Ternyata kesimpulan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ir hujan yang meresap ke dalam tanah dasar bangunan candi melalui celah-celah batu telah membentuk kantong-kantong air, memperlemah daya tahan tanah dan menjadi lunak. Air inilah penyebab utama kerusakan candi.

Referensi Coremans telah mendorong Pemerintah Indonesia dan UNESCO melakukan renovasi yang kedua kalinya antara tahun 1973 – 1983. Dengan selesainya pemugaran ini diharapkan Candi Borobudur dapat bertahan 1.000 tahun lagi.

Kini di kompleks ini telah dibangun Taman Wisata seluas 85 hektar. Pembangunan taman ini untuk meredam, mengatur dan menampung arus wisatawan yang makin banyak jumlahnya serta member fasilitasinformasi, tempat bersantai, dan berekreasi. Dengan demikian taman dapat berfungsi sebagai Sabuk Hijau Pengaman (green safety belt). Bangunan dibuat dengan pola arsitektur tradisional untuk menghidupkan kembali suasana sejarah dan spiritual di sekitar candi.

Ahad, 19 Juli 2009

Sumber : Potensi Wisata Jateng

Bookmark this post:
StumpleUpon Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Blinklist Yahoo Furl Technorati Simpy Spurl Reddit Google

Bogor Agricultural University

Bogor Agricultural University
"Mencari dan Memberi Yang Terbaik"

LDK Al Hurriyyah

LDK Al Hurriyyah
"Inspiration of Togetherness"

FORCES

FORCES
"Go Scientist...!!!"

AGRIA SWARA

Boneka Horta & POTTY

 

Copyright 2009 All Rights Reserved Magazine 4 column themes by One 4 All